Tuesday, April 17, 2018

review dalam bahasa soon, atau bisa langsung ke IG revimov_

Columbus is an aesthetically cinematic experience. A story with a masterful approach in a subtle, calm like its making us for a moment to be meditating. Profoundly not in a complete way because its audience have to complete its piece by exploring, and looking further like solving the riddle that words can’t express it, but emotion can.

This is his directorial debut, Kogonada creates a wonderful, alive and true art. It resonates its story through a divine cinematography, seeing every modern architecture in Columbus that is not just stand as it just as a functional. But how this thing has a soul for one who can see and knowing it.

This film brings about family sacrifices toward dream, love, even when you are in the moment, where we not understand why or we refuse to acknowledge it. It’s a story that feels personal but universally related. It’s a critique of critique that testing its audience to see, understand, and appreciate it.

Some of my interpretation comes from its profound narrative and no doubt, the characters has become a tour guide of life in this film. That interpretation is not enough to represent everything that appear in film. Seeing the character moving one place to another, looking their life, looking the character sharing story one to another and done. It’s not that, but it invites you to explore, to make you actively sense and realize that life is not a tutorial and it’s already start from its early existence.

John Cho has a consistency performance. It’s great to see him in this film. Also when it interact to another character by Haley Lu Richardson that brings the character alive as a guider. Every exposure of their emotion is detail. Seeing them traveling from one place to another, interact and trying to understand one another even tho they really don’t understand or handle well of their each problem.

From beginning to the end, with the total shot, it assure you that you are an observer to the film. With the color grading that feels natural and the shot like a painting. The approach is precise and it clearly that the aspect of the film is inspired from Tokyo Story. With subtle tone creates a contemplating experience as we traveled along to the object of the story that beautifully immerse. 

The film makes me more believe in cinema, where it really can transcend a vision that amazing to feel it. Kogonada gave me something that I will never forget. Through this friendship melancholy, I found no flaw and if it was there, there’s always reason behind it.

To be true, since I watch this for the first time (now already three times, probably gonna more) it make me speechless. Sometimes there’s a moment where you can’t use words, or probably just make it a key.

It’s not for everyone, of course. It’s sounds boring, artsy, there’s nothing interesting. It’s up to you, this is just my love letter to the film. It’s simple, just about a human story in a true art. I really thankful to Kogonoda to create this such a beautiful cinematic experience, it’s calming, and your film will stuck in my mind always and ever be.

HAVE A NICE DAY AND LIVE FOR MOVIES!

Sunday, April 15, 2018


untuk review dalam bahasa indonesia >>> KLIK DISINI!

Lately I've been looking for films that may be missed from radar, and I found this, and blew my mind. Sylvio has the simplicity of telling the story of self-discovery in a unique way, fresh, and pretty absurd. It’s underrated that this film deliver its story with quirky, comical and so indie but no doubt, affectionate.

With Kickstarter, about Sylvio, a gorilla who stuck in working life as a debt collector and always wants to express himself through puppet shows that highlight the moment of silence, though he being mute all the time. Then, accidently famous on TV, and having an event 'What's the Ape gonna break?' something bothered his feeling, on his now achievements that affect his life.

From here, Sylvio lead into his quiet and cold life. But slowly, it transitions into a funny warm moment by using comical quirky humor and little absurd. It’s interesting to know that this story leads to something completely unknown and just flowing like a water. The formula is already commonplace, but in this film, the formula is not wasted with the concept and a goal that this movie wants to achieve. Reaching for the self-questioning moment, "Is it really you?" which each of us has ever felt in that situation.

It’s inventive, and not just echoing about self-discovery, but about dreams, self-expression, and a little touch about humanism and entertainment. As if, it proves that this film has a depth on the material. Moreover, surreal moments are also used. No doubt too, the character Sylvio has a very precise depth.

Forget the minor problem that exist, this story honestly wrapped in unique, fresh. It delivers the story slowly from emptiness, then the absurdity that become enjoyable and fun. But that sense will be broken when it goes to the final round, the third-act where all transitioned to emotional and touching. Utilizing the last moment in closing the story with a slick and full of spirit in life.


Different experience and underrated. Well, some point seems like a simplistic decision, but I thought it’s kind of a reasonable. It's worth watching and definitely going into my list of underrated movies of 2017 soon. Please do not expect nothing on this, because the movie itself does not expect anything from you except you have a pure intention to explore this story not just enjoying what it has. So, "Are you in?" 

Thursday, April 12, 2018


for english review >>> CLICK THIS!

Akhir-akhir ini aku banyak nyari film-film yang mungkin saja terlewatkan oleh radar, and I found this, and blew my mind. Sylvio punya kesederhanaan dalam menceritakan pencarian jati diri dalam kemasan unik, fresh, dan absurd. Saking underrated dan terlewat dari radar, film ini memainkan unsur kikuk dan rada komikalnya dengan smooth dan so indie.

Bermodalkan dari hasil galangan dana Kickstarter, cerita yang ditawarkan cukup sederhana namun begitu terasa saat selesai menontonnya. Sylvio, seorang gorilla yang dulunya kerja di bagian penagihan hutang, menemukan dirinya terkenal saat tak sengaja masuk ke acara televisi dan mengira, dia bintang tamu yang diundang buat juggling. Padahal niatnya mau nagih hutang orang itu. Terkenal saat dirinya dengan konyol memecahkan properti yang mesti dia juggling. Hingga akhirnya, acara What’s The Ape, Gonna Break menggaungkan namanya, tapi sesuatu yang mengganjal yang Sylvio rasakan.


Bukan tipikal cerita self-discovery biasa dan diselipkannya sequence surreal, film ini punya approach yang menarik. It’s not just about self-discovery bila approach yang digunakan demikian, banyak hal yang lain dikupas, mengungkit soal humanis dan tayangan hiburan.


What I really admire sebenarnya ialah, bagaimana kisah yang udah dikemas dengan unik, fresh, dibangun dengan awkward hingga enjoyable dan absurd yang ga ketinggalan, hal itu berubah 180 derajat menjadi babak yang di luar ekspetasi dan sungguh emosional. Babak itulah yang buat aku berdecak kagum, merinding, dan begitu menyentuh.

Benar-benar punya experience yang berbeda dan underrated. Well, terlebih film ini absurd, walau ga terlalu banget (bagi yang udah biasa), tapi trust me, setiap menit akan terbiasa dan semakin get along dengan Sylvio. It’s worth watch and definitely going into my list of underrated films of 2017 soon. Please don’t expect nothing on this, karena filmnya sendiri tak mengharapkan ekspetasi apa-apa dari penontonnya kecuali bagi yang benar-benar melibatkan jiwanya untuk benar-benar menyelami kisah satu ini. So, “Are you in?”

Share opini dong?
Tulis dikomen ya.

HAVE A NICE DAY AND LIVE FOR MOVIES!

Tuesday, March 20, 2018






"sederhana namun begitu berasa dan bagaimana mengemas cerita dengan rasionalitas tapi tetap menarik dan beda"


Love For Sale adalah ‘her’ dengan kearifan lokal dengan kisah nyesek namun lepas. Dengan premis yang menarik dan sesuai dengan adanya, realitanya, dimana cinta bagai permainan dan berpengaruh. Dan film yang disutradarai Andi Bachtiar ini betul-betul memberikan sajian bittersweet yang tepat dalam mengisi list one of the best indonesian romance dalam sinema mainstream lokal.

Gading Marten dipercayakan untuk memerankan tokoh Richard, jomblo ngenes tapi pengusaha namun hidup sengsara dengan ritual galer. Namun kesengsaraan itu ditimpakan pada karyawannya yang suka telat dan Richard betul-betul menghargai waktu. Malam, pas nobar bola, kawannya ngajak Richard untuk hadir di nikahannya tapi harus bawa pasangan. Kawan lainnya membuat taruhan buatnya. Namun Richard menganggapnya taruhan harga diri, ya lo mungkin kalo diposisinya juga menganggap hal sama-lah, lek. Muncul-lah brosur love.inc yang memikatnya dan bertemu perempuan bernama Arini dan jatuh hati padanya.

Kisah cinta yang ditawarkan dari Love for Sale begitu real dengan humor satirnya yang menambah kesan realism. Mulai dari dialog antar karakter yang berhasil membangun pondasi cerita yang kian menarik, bagaimana mengulik karakterisasi para tokoh dan membuat setiap tokoh di dalamnya punya interaksi menarik dan kuat, itu berhasil ditunjukkan. Santai, dan tidak terlalu di bentuk banget, seperti membiarkan benih-benih yang udah dikasih ke karakter dan berkembang dengan sendirinya lewat dialog yang membaur ke ceritanya. Semua kata-kata yang dilontarkan tokoh berhasil membuat pengembangan karakter dan cerita menjadi baik. Lewat dialog, mengulik kisah Richard dengan kawannya, karyawannya, bahkan Arini. Mengikuti kisahnya yang tenggelam dalam cinta namun hati-hati dan siapkan hati saja buat selanjutnya. Like I said, bittersweet romance.

Sungguh menarik bahwa naskahnya begitu rapi dan arahannya yang santai namun begitu afeksi. Hal ini dikarenakan semua begitu pure terpancar apa yang ingin di sampaikannya. Mulai dari realita, kemanisan romansa,  interaksi yang menarik, bahkan sajian pahit namun lepas. Kenapa lepas? Karena ending yang nantinya bakal antiklimaks dan di tutup dengan konklusi perasaan batin Richard bahwa cinta itu resiko--resiko yang dimaksud bukan artian negatif--, dan disini cinta itu sebuah pengalaman rasa dan bagaimana menghandle-nya, saat maupun after. Realita disini ditunjukkan lewat bagaimana pressure dari sosialnya yang rasanya menganggap cinta bagaikan benda, bukan perasaan mencinta yang alamiah.

Banyak applause buat lu bang Gading Marten, memainkan tokoh Richard dengan amat baik. Apalagi pemeran Arini, Della Dartyan sebagai penyokong performa baik Gading dan menciptakan benih chemistry yang indah. Other cast was also good. Dua karakter yang diperankan Gading dan Della ini bakal menghipnotis dan mengundang senyum tanpa sadar.


Jujur, tonton film ini. Kisah yang begitu sederhana namun begitu afeksi di hati. Pemilihan ending demikian begitu tepat agar materi bisa terngiang dan dipikirkan, apalagi eksekusi kemanisan romansa yang dibuat seperti momen yang nantinya bakal berputar di memori. Sajian yang baik dan mesti kalian tonton segera. Ajak pacar kalo perlu, dan hati-hati yang jomblo. Well, me? I am okay. Yea. *sobbing Kadarshian-ly*

Menurutmu gimana?
Tulis di komen!

HAVE A NICE DAY AND LIVE FOR MOVIES!



RATING
8.5/10

Wednesday, February 7, 2018



for english review, scroll down until you see the yellow color tiles.

synopsis: Orbiting a planet on the brink of war, scientists test a device to solve an energy crisis, and end up face-to-face with a dark alternate reality.


INDONESIAN REVIEW
Fall into a disappointment with its bigger responsible as a connector but somehow it’s worth to see by its matter.

Marketing tak bisa disalahkan, sebenarnya great job buat mereka apalagi untuk tipe film begini. Tak bisa disalahkan juga diriku yang tak bisa enjoy film ini dengan kekacauannya bahkan masih enakan yang sebelumnya yang lebih mencekam, menegangkan dan memuaskan. Banyak orang yang berantisipasi dan terkejut saat filmnya keluar setelah superbowl. Ya, gua punya niat besar untuk nonton langsung film ini dan tetap mengambil pencegahan dengan menurunkan ekspetasi. Dan hal itu terjadi. WHAT. THE. FUCK!


Jujur, film ini tak hanya datang mengejutkan tapi juga selesai dalam keadaan yang sama dengan tambahan gelengan kepala saat aku menyaksikan film ini. Jujur, film ini tak bisa disalahkan akan kekurangannya tetapi disisi lain, film ini tetap harus ditonton. Why? Gua elaborate dulu penilaianku soal film ini.

First thing first, film ini mengambil set di luar angkasa dimana mereka menghidupkan particle accelerator untuk menyelamatkan krisis energi yang sedang terjadi di bumi. Tak tahu juga tahun berapa-an, tapi yang jelas situasi di bumi sering gelap-gelapan, hadeh. Orang-orang yang ada di luar angkasa ini, bukannya berhasil meruntuhkan krisis energi malah berhadapan pada masalah yang di luar akal manusia, di mulai ketika mereka menyadari bahwa bumi tiba-tiba saja hilang.

Jujur, film ini memiliki beban besar terhadap konektivitas film lainnya, mulai dari Cloverfield (2008), 10 Cloverfield Lane (2016), dan juga yang akan datang Overlord (2018) di bioskop nanti. Hanya saja, membawa materi untuk menjawab beberapa pertanyaan di film-film sebelumnya, hanya sekedar begitu-begitu saja, biasa. I can say film ini seperti film kausalitas dari kondisi yang telah terjadi. Hanya saja, banyak kegagalan di dalamnya yang membuat film ini jatuh ambruk dalam kekecewaan.

Kegagalan film ini ialah konstruksi atau membangun tensi ketegangan. Di first-act ketika bermunculan hal-hal aneh yang bikin kening mengernyit cukup menarik tetapi bagaimana eksekusi di second-act bahkan third-act nya kian melemah. Film ini tidak begitu mencekam seperti pendahulunya, atau setidaknya memberikan experience yang menarik lewat misteri udah cukup, tak perlu memberikan sensai menegangkan bila akhirnya begini. Tak hanya itu, dialognya bahkan tidak berhasil menyelamatkan film ini dari kegagalan tersebut. Ketika dialognya demikian, beruntunlah pada pengembangan karakter yang juga melemah, bahkan ketika keinginan director untuk menyisipkan drama di third-act, terlambat sudah akibat beberapa aspek yang kian rendah. Dan tinggallah hanya memberikan jawaban-jawaban tanpa ada kemasan menarik di dalamnya, seakan film ini pelengkap dalam kemasan buruk.

Kalau yang tadi kegagalan aspek-aspek di dalamnya, yang ini malah sia-sia, dan beberapa plot-hole. Kemudian di bagian score yang rasanya tidak sesuai bahkan tidak bisa membantu memberikan rasa ketegangan yang ended-up nanggung. Kemudian di bagian cast yang terasa wasted disini, seperti Gugu Mbatha-Raw yang memerankan tokoh Hamilton di film itu. Akting dan performanya sudah bagus, dan lainnya sebenarnya juga lumayan untuk film ini, hanya saja terhambat karena dialognya.

Buang hal buruk tadi, sekarang bagian kesukaanku di film ini. Hal yang paling kusuka hanyalah bagian awal dan akhir. Bagian akhir seperti menebar minyak pemuas dan menutup dengan pertanyaan yang memutar otak dalam menyusun kejadian demi kejadian di Cloverfield Universe.

Film ini masih interesting di sisi lain, dan worth to see, atau ngelihat spoiler dari orang mengenai ceritanya kalau mau menghemat 1 jam 42 menit. Semua keputusan terserah kalian, bukan maksudku untuk membuat kalian agar tidak menonton film ini, ini semua hanya pendapat dan pemikiranku mengenai film ini. Film itu subjektif, ada yang suka, ada yang tidak, semua tergantung selera dan pandangan anda. Yang jelas, to me, film ini kacau.

Menurutmu gimana?
Tulis di komen!

HAVE A NICE DAY AND LIVE FOR MOVIES.

RATING:
2.0/10

ENGLISH REVIEW
Fall into a disappointment with its bigger responsible as a connector but somehow it’s worth to see by its matter.

I can’t blame the marketing, they did a great job for a type of film like this. I can’t blame myself for not enjoying much on this one and prefer the previous one which more, more thrilling and satisfying. So much people anticipated this and surprised when it comes right after the superbowl. Yes, I have a bigger intention and take a precaution by decreasing my expectation. Then, it happens. WHAT. THE. FUCK!


Honestly, this film is not just surprising as it comes to the world but also done in a surprising way with my head shaking a little. This film somehow it is worth to see but if you just wanna take a spoiler from your friend, then that’s yours, haha.

First thing first, this film taking a set from outer space where they have a mission to save the energy crisis by turning on the particle accelerator. I don’t know which year they were but to be clear that earth is in dark. People in a spaceship is not succeed but facing another problem, begin with realizing that the earth is gone. Just gone.

To be honest, this film has bigger load for the connectivity of other film in one film universe, starts from Cloverfield (2008), 10 Cloverfield Lane (2016), and also soon Overlord (2018) in your near cinemas. It’s just, carrying this story to answer few questions from previous films, and just that, it’s not like making its experience become better or at least good. It’s a big disappointment for this one.

So many failure in a messy way. First one, is building the tension, building the thrill, gripping or at least create a fascinating way by taking its mystery in a great packaging. Turns out no, so much potential in this film that just wasted. Then, the dialog that cannot save this film from its failure. When the dialog has a failure, then it goes to the character development that also fail. Even when the film wants to create a drama moment in the third-act before it ended with seconds of satisfying moment, it feels empty even the cast is already putting much effort. Everything left with just answering and knowing the fact and it’s over. It’s a bad wrapped.

Failure in a few aspects, then it’s about the plot, score and cast. Yes, plot-hole is everywhere but not entire, yes, I know if you put attention into the news and other things, but I think some of it still a plot-hole that doesn’t make any sense. Then, the score that it’s weak. You know, score can also build the tension for a bit, take an example like, Life (2016). Next, is the cast. I think this department is pretty wasted. Gugu Mbatha-Raw has a good performance and put a good effort in it, it’s just the story and the constructions of it cannot embrace it.

Let alone that negative points, then going into moments that I really liked. What I really liked is just the beginning and ending. The ending is predictable but it’s still sparkling and satisfying, seeing that thing, roaring and closed by questions that giving duty to your brain, thinking and arranging events in Cloverfield Universe.

Somehow this film is kind of pretty interesting, but I won’t see this again, anymore and have a big regret. If you don’t want to waste your 1 hour 42 minutes just for this crap, it’s all yours. It’s not my decision to hold you up and not watching this one, I am really not, I just put my thoughts about this film and I think this film is not satisfying me. It’s all yours, it’s up to you, your taste and your point of view. Obviously for me, this film is a total messy.

What do you think?
Write in comment!

HAVE A NICE DAY AND LIVE FOR MOVIES.

RATING:
2.0/10

Sunday, February 4, 2018



for english review, scroll down until you see the yellow color tiles.

synopsis: Set over one summer, the film follows precocious six-year-old Moonee as she courts mischief and adventure with her ragtag playmates and bonds with her rebellious but caring mother, all while living in the shadows of Walt Disney World.--A24


INDONESIAN REVIEW



“luar biasa dengan kejujuran yang membuat film ini bernyawa dalam hangat dan tawa dikepahitan realita”

Ketika yang lain berkutat pada eksplorasi di romansa, histori perang, fantasi sementara film ini mencoba mengajakmu pada realita pahit yang perlu kamu rasakan disetiap menitnya. Jujur, film yang disutradarai Sean Baker memberikan sebuah kejujuran dalam kehangatan, humor, intim, pertualangan summer pada sekelompok dari kacamata anak kecil dan orang dewasa.

Pada dasarnya seperti pertualangan drama pada realita, Mooney, perempuan manis kecil tinggal di balik megahnya istana Walt Disney, berpetualang kemana saja bersama temannya yang memiliki ibu yang lepas kontrol tapi tetap mengalir rasa kepedulian, kasih sayang bagi anaknya. Ceritanya memang begitu simpel, cuma pertualangan realita hidup tapi dampak setelahnya begitu mendalam.

Hasil ramuan Sean Baker dan seluruh tim krunya membuat film ini begitu hangat sehangat summer dan senyuman anak kecil, lucu dan sangat simpatik. Hal yang membuat film ini bekerja dengan baik ialah kejujuran di dalamnya. Kejujuran disetiap scene yang membuat film ini bernyawa walau kita tak menyadari fakta bahwa kita sudah begitu intim dengan cerita dari keseharian suatu kelompok dari setiap problemnya, pertualangan dari anak dan orang dewasa juga konflik karakter yang membawa penontonnya berlabuh di titik ending, titik dimana tangis tak terbendung, I mean how can you hold your tears for that. Benar-benar kisah pahit yang diramu dengan eksekusi yang tepat. Melihat semuanya dalam kedetilan dan penjajaran kisah yang terasa nyata.

Depiksi anak kecil di film ini betul-betul lugu polos, petualang, namun bebas kemana saja mencari kesenangan tanpa memikirkan beban apapun, walau es krim baginya sudah menjadi hal yang dirasa paling istimewa baginya. All this works because of this sweet, Brooklynn bersama cast anak kecil lainnya. Bria Vinaite memerankan karakter ibu yang totally buruk, hancur, bisa dibilang emang ga cocok menjadi seorang ibu tapi bagaimana setiap kali permasalahan anaknya, dia tetap peduli, dia tetap memberikan sebisanya kasih sayang, dengan itu tercipta hubungan ibu-anak telihat kuat disini. Kemudian manager motel yang betul-betul penuh tanggung jawab, keayahan, kebaikan hatinya, diperankan dengan luar biasa oleh William Dafoe—jarang-jarang loh liat dia dapat role orang baik haha apalagi dapat nominasi oscar, ye kan? Bila ada kategori Best Actress buat anak kecil di Oscar, I bet my life for Brooklynn manis.

Sinematografi yang apik memberikan gambaran betapa luasnya dunia, betapa luasnya bayangan dibalik megahnya bangunan tinggi, menyembunyikan realita yang pantas dipertanyakan dan direnungkan. Bagaimana kehidupan seorang anak harusnya menyenangkan, hidup jauh dari kepahitan yang tak harus dipikirkannya, dan menetap dalam kebahagiaan dimana dunia miliknya dan tak seorangpun boleh mengganggu dan merenggut senyuman seorang anak, walau betapa pedihnya realita itu. Memang bukan hanya soal anak tapi juga orang yang hidup disana. Sungguh prihatin. The Florida Project, bukanlah sebuah film melainkan refleksi nyata yang menarik kepala anda untuk melihat apa yang ada di balik bayangan yang akan disaksikan, dan dirasakan.

 Menurutmu gimana?
Tulis dikomen!

HAVE A NICE DAY AND LIVE FOR MOVIES!

RATING:
9.5/10

ENGLISH REVIEW

“truly remarkable by its poignant honesty of a community and surround with joyful warm”

When another film is busy to explore the romance, war history, fantasy, superhero while this one guided you into the poignant reality that you have to see and feel every minute. When I say poignant reality, doesn’t mean it’s gonna be melodramatic, directed by Sean Baker and he gives honesty to it in warm, joyful, intimate, summer adventure on a community lives in a shadow from perspective of kids and adult.

Basically just adventure on a bitter sweet story, Mooney, little sweet girl living behind the gorgeous big city where Disneyland stand, adventure to anywhere she can with her friends and having a troubled mother that loving her much in her mother’s way. The story is simple, because it’s reality but you have to put your sense so it can transcend its emotion.

Sean Baker did it again on this one, it’s warm as summer as the kids smiling, joyful humor, and very sympathy. Those things works very well because of its honesty. I feel the soul of this film alive because of its honesty and we unaware of facts that the story and character is so intimate through the everyday life of the community, the problems, kids perspective and so the adult until the conflict of the characters bring us into the place where it ends with tears, I mean how can you hold your tears. That ending is so incredible. How poignant in a right execution and makes it real with its detail of life.

The depiction of kids that so playful, adventurous, free to anywhere else they can go, finding happiness even just the ice cream is the perfect menu in the world for them. All this works because of this sweet, Brooklynn with another little cast. Bria Vinaite showing her range in first role, playing a mother that totally broke, rebellious but having much care and love for her kid, and how Vinaite create such a solid bond to children and it’s beautiful. Then the motel manager that full of respect and fatherness, kindness, played by William Dafoe—it’s kinda rare to me seeing him in that kind of role. If there’s best children actress/actor on Oscar, I bet my life for Brooklynn.

The gorgeous and epic cinematography captured on how big this world, how big the shadow behind ‘the building’, hiding the reality that needs to be question and think. How the life of that kids needs to be safe and nice, living in ‘that’ reality that shouldn’t be thought of, and just live in happiness where the world just for them and nobody can steal the smile. I know it’s not just about a children but also the community behind. I really loved this work. The Florida Project, is not a film but a truth reflection that grab your head to see what’s going on and think and realize about it.

What do you think?
Write down below!


HAVE A NICE DAY AND LIVE FOR MOVIES!

RATING:
9.5/10

Friday, December 29, 2017


for english review, scroll down until you see the yellow color tiles.

INDONESIAN REVIEW



“Sebuah cerita yang kuat dan berpengaruh sampai menetap di hati dalam waktu yang lama”

Untuk film sejenis ini, sungguh susah diungkapkan dengan kata-kata selain menunjukkan rasa sejenis kekaguman pada kesuksesan film ini, membawa sebuah experience terasa luar biasa pada penontonnya. I don’t care of the theme, selagi pegangan prinsip kuat, takkan pasti terpengaruh apapun itu bentuknya.

Summer di italia, Elio bertemu dan berkenalan dengan Oliver untuk pertama kalinya. Elio terlihat risih dan merasa terganggu dengan kedatangannya, dan tanpa dirasa dia tumbuh untuk menyukainya. Ini kisah cinta pertama Elio yang akan selalu terkenang dihatinya.

Fak, lagi nulis kembali baper. Begitu banyak bertebaran film bertemakan LGBT dengan unsur First Love Story dengan masing-masing keunikan dan tujuan menyinarkan maksudnya. Betapa bagusnya film ini sampai membuatku terdiam dan jelas, film ini memberikan experience romance yang lebih daripada romance straight malahan. Sebenarnya hal utama dari film ini tak hanya persoalan kisah cinta pertama, tetapi juga mengenai embrace dan empowerment dalam cinta, walaupun itu sesama jenis dan dalam kasus ini, Oliver dan Elio terlibat dalam dinamika kisah cinta sesama jenis.

Aku suka bagaimana setiap rajutan film ini begitu kuat dan tepat disegalanya. Menontonnya serasa, kisah yang diceritakan mengalir normal begitu saja, bagai tertawa hangat pada momen-momen, tetapi ketika mencapai sebuah ending, hasil yang membuat hati kita tergoyah dengan maksimal. Bagaimana cerita tak hanya bertutur begitu saja, tetapi membuat penontonnya untuk ikut meraba kisah mereka, memahami sesuatu yang rasanya non-verbal, dan diikuti alunan musik yang dengan cepat menyusup ke dalam hati.

Jujur, Timothee disini memiliki great performance begitu juga dengan line-nya yang betul-betul tercapture sosok karakter itu sendiri, bagaimana seorang remaja yang hidup dalam dunia liberal yang diciptakan oleh orang tuanya. Timothee dan Armie memiliki chemistry yang sangat kuat. Armie Hammer pun juga sama-sama keren gilanya dalam performance.

Ketika menontonnya, apalagi untuk tipe slow-burn dan sampai di ending, hal yang udah terlewati bakal tetap dalam ingatan dalam kurun waktu lama. Belum lagi, hal yang paling spesial disini ialah role parent, sungguh langka mendapatkan orang tua yang bisa menerima apapun, dan memahami kondisi anak dengan baik apalagi ketika kalian mendengar speech oleh ayahnya yang diperankan oleh Michael Stuhlbarg dengan baik.

Everything is about understanding, acceptance, and embrace.

p.s. siapkan hati untuk menerima segala yang ada difilm ini.

Menurutmu gimana?
Tulis dikomen!

HAVE A NICE DAY AND LIVE FOR MOVIES!

RATING:
9.8/10

ENGLISH REVIEW

“Solid romance and impactful that can stay long in your heart for long time”

For a film like this, it’s difficult to say or put any much words about this than showing my expression on how I really love this film. This film has an extraordinary experience and impactful in a long time. It’s been 4 days, and I never forget that, but my heart, damn, still hurt, help me!

Summer in Italy, Elio met and introduced to Oliver for the first time. Elio think that he is pain by his arrival, everyone likes him, but Elio doesn’t, but somehow he grew to like him. This is his first love that always in his heart.

Fuck, my heart! I’m late to the party, I guess but so many LGBT films with using First Love Story as the fundamental of its story then it goes to lightning the meaning or what it would be. It’s such a great film that make me speechless and to be clear, this gave me a romance experience more and more than the straight romance instead. Actually the main thing is not just about first love story, but also about embrace and empowerment of love, even in this case.

I really like that everything feels solid and right at the place. Watching it feels like the story flowing like normally, probably laughing and trying to swim to their story, until it goes to the ending, something that I never believe to be happen when your heart is so weak but what you have to accept is so big. How the story not just telling but involved the audience to understand the character, everything that includes non-verbal matter, and it flows with the great music by Sufjan Stevens that quickly stand inside your heart.

Honestly, Timothee has a great performance so as his line on the script that really capture on teenage itself, how a 17 year old boy living in a liberal family that created by his parent. Also Armie Hammer does a great job in it. How the chemistry is so strong that you felt the entire moment.

When you see it, even it’s slow-burn and until end, the moment that you just been through will stay for long time. Not to mention, that the special thing is the role parent in it, so rarely to see a parent, especially in cinema, seeing a parent that can accept everything and understanding the condition of their kid. When you hear the speech from Elio’s Father that played by Michael Stuhlbarg very well.

Everything is about understanding, acceptance, and embrace.

p.s. prepare your heart for this film, man.

What do you think?
Write down below!

HAVE A NICE DAY AND LIVE FOR MOVIES!

RATING:
9.8/10