Friday, December 29, 2017


for english review, scroll down until you see the yellow color tiles.

INDONESIAN REVIEW



“Sebuah cerita yang kuat dan berpengaruh sampai menetap di hati dalam waktu yang lama”

Untuk film sejenis ini, sungguh susah diungkapkan dengan kata-kata selain menunjukkan rasa sejenis kekaguman pada kesuksesan film ini, membawa sebuah experience terasa luar biasa pada penontonnya. I don’t care of the theme, selagi pegangan prinsip kuat, takkan pasti terpengaruh apapun itu bentuknya.

Summer di italia, Elio bertemu dan berkenalan dengan Oliver untuk pertama kalinya. Elio terlihat risih dan merasa terganggu dengan kedatangannya, dan tanpa dirasa dia tumbuh untuk menyukainya. Ini kisah cinta pertama Elio yang akan selalu terkenang dihatinya.

Fak, lagi nulis kembali baper. Begitu banyak bertebaran film bertemakan LGBT dengan unsur First Love Story dengan masing-masing keunikan dan tujuan menyinarkan maksudnya. Betapa bagusnya film ini sampai membuatku terdiam dan jelas, film ini memberikan experience romance yang lebih daripada romance straight malahan. Sebenarnya hal utama dari film ini tak hanya persoalan kisah cinta pertama, tetapi juga mengenai embrace dan empowerment dalam cinta, walaupun itu sesama jenis dan dalam kasus ini, Oliver dan Elio terlibat dalam dinamika kisah cinta sesama jenis.

Aku suka bagaimana setiap rajutan film ini begitu kuat dan tepat disegalanya. Menontonnya serasa, kisah yang diceritakan mengalir normal begitu saja, bagai tertawa hangat pada momen-momen, tetapi ketika mencapai sebuah ending, hasil yang membuat hati kita tergoyah dengan maksimal. Bagaimana cerita tak hanya bertutur begitu saja, tetapi membuat penontonnya untuk ikut meraba kisah mereka, memahami sesuatu yang rasanya non-verbal, dan diikuti alunan musik yang dengan cepat menyusup ke dalam hati.

Jujur, Timothee disini memiliki great performance begitu juga dengan line-nya yang betul-betul tercapture sosok karakter itu sendiri, bagaimana seorang remaja yang hidup dalam dunia liberal yang diciptakan oleh orang tuanya. Timothee dan Armie memiliki chemistry yang sangat kuat. Armie Hammer pun juga sama-sama keren gilanya dalam performance.

Ketika menontonnya, apalagi untuk tipe slow-burn dan sampai di ending, hal yang udah terlewati bakal tetap dalam ingatan dalam kurun waktu lama. Belum lagi, hal yang paling spesial disini ialah role parent, sungguh langka mendapatkan orang tua yang bisa menerima apapun, dan memahami kondisi anak dengan baik apalagi ketika kalian mendengar speech oleh ayahnya yang diperankan oleh Michael Stuhlbarg dengan baik.

Everything is about understanding, acceptance, and embrace.

p.s. siapkan hati untuk menerima segala yang ada difilm ini.

Menurutmu gimana?
Tulis dikomen!

HAVE A NICE DAY AND LIVE FOR MOVIES!

RATING:
9.8/10

ENGLISH REVIEW

“Solid romance and impactful that can stay long in your heart for long time”

For a film like this, it’s difficult to say or put any much words about this than showing my expression on how I really love this film. This film has an extraordinary experience and impactful in a long time. It’s been 4 days, and I never forget that, but my heart, damn, still hurt, help me!

Summer in Italy, Elio met and introduced to Oliver for the first time. Elio think that he is pain by his arrival, everyone likes him, but Elio doesn’t, but somehow he grew to like him. This is his first love that always in his heart.

Fuck, my heart! I’m late to the party, I guess but so many LGBT films with using First Love Story as the fundamental of its story then it goes to lightning the meaning or what it would be. It’s such a great film that make me speechless and to be clear, this gave me a romance experience more and more than the straight romance instead. Actually the main thing is not just about first love story, but also about embrace and empowerment of love, even in this case.

I really like that everything feels solid and right at the place. Watching it feels like the story flowing like normally, probably laughing and trying to swim to their story, until it goes to the ending, something that I never believe to be happen when your heart is so weak but what you have to accept is so big. How the story not just telling but involved the audience to understand the character, everything that includes non-verbal matter, and it flows with the great music by Sufjan Stevens that quickly stand inside your heart.

Honestly, Timothee has a great performance so as his line on the script that really capture on teenage itself, how a 17 year old boy living in a liberal family that created by his parent. Also Armie Hammer does a great job in it. How the chemistry is so strong that you felt the entire moment.

When you see it, even it’s slow-burn and until end, the moment that you just been through will stay for long time. Not to mention, that the special thing is the role parent in it, so rarely to see a parent, especially in cinema, seeing a parent that can accept everything and understanding the condition of their kid. When you hear the speech from Elio’s Father that played by Michael Stuhlbarg very well.

Everything is about understanding, acceptance, and embrace.

p.s. prepare your heart for this film, man.

What do you think?
Write down below!

HAVE A NICE DAY AND LIVE FOR MOVIES!

RATING:
9.8/10

Wednesday, December 20, 2017


REVIEW IN TWO LANGUAGE! SCROLL DOWN FOR ENGLISH!

GENRE
DRAMA MYSTERY HORROR ART-HOUSE
YEAR
2017

for an english review, you can scroll down until you found the red font style.


INDONESIAN REVIEW



"brillian dengan memanusiakan sesuatu dengan storytelling yang tak biasa"

WTF! Satu kata yang sering dilontarkan buat film ini dengan berbagai macam reaksi dan pendapat dari berbagai orang yang telah menikmatinya. Sungguh memisahkan penonton dalam interpretasinya masing-masing. Well, yes! I agree that this is so fuckin’ insane.

Jujur aku bingung mau jelasin soal sinopsis yang betul-betul mendeskripsikan isi sebenarnya, but kurang lebih menceritakan tentang pasangan yang hidup tenang dan damai, dirusak oleh kedatangan orang asing.

Tahun ini banyak film yang memberikan pengalaman yang semakin unik, kali ini mother! datang dengan ambisius membawa materi dan esensi yang bisa dibilang cukup berat dan bisa gagal paham. I can say, film ini memiliki writing yang begitu brilian dan film yang disutradarai oleh Aronofsky ini secara keseluruhan seperti tidak memiliki plot karena semuanya bersifat metafora didampingi simbolis. Dengan marketing yang demikian, yang membangkitkan kesan horror dibandingkan dengan apa yang akan penonton saksikan memberikan reaksi yang luar biasa. CINEMASCORE memberi nilai F, dan banyak kritikus bahkan reviewer lainnya yang kebanyakan mungkin tidak siap dan tak mampu menerima sesuatu yang rasanya memang tak masuk akal.



Film ini bisa dibilang tidak jelas dalam pace bahkan ceritanya yang terasa melompat-lompat, ya memang aku akui rasanya seperti itu. Tetapi bagiku ada beberapa tujuan mengapa Aronofsky membuat hal seperti itu. It’s unusual in storytelling dan film ini crazy-super-double-insane ride. Kemudian perbedaan kontras pada perpindahan adegan, kadang cepat kadang lambat, belum lagi kepikiran dengan apa yang ingin Aronofsky ceritakan.

He’s not a god because of this, he’s still him. Seperti yang orang bilang dan deeply agree bahwa film ini memiliki sangkut paut dengan cerita biblical. Film ini lebih kepada menyoroti pandangan seorang mother (I don’t want to spoil) dari awal hingga sekarang ini. Dimana begitu jelas bahwa Aronofsky ingin penontonnya untuk tahu dan merenungi. Pada dasarnya seperti memanusiakan sesuatu agar bisa dimengerti oleh manusia yang terkadang kurang terketok hatinya. Pandangannya terhadap rumahnya (kalimat metafora) yang betul-betul menjadi nightmare gara-gara kita. Kemudian mengkritisi sifat manusia yang tidak ada puasnya dan berbagai macam interpretasi lainnya.

Tetapi dilain sisi, walau everything feels brilliant, cerita yang dibawakan terkadang kurang klik di first-act untuk first-time watch walau pada akhirnya hingga credits aku terdiam dan memikirkan soal ini sepanjang hari. Ini adalah sebuah bahasan general yang harus kita renungi.

Kemudian aku ingin memberi apresiasi pada Jennifer Lawrence, performancenya bagus walau rada trying dan agak lain ngeliat dirinya yang begitu soft. Dan pada interview dengan THR dia mengakui bahwa karakter yang dia bawa kali ini sungguh berat dan diluar dari capabilitynya. Selain itu, para cast terlihat begitu bagus terutama Michelle Pfeiffer.



Aku rasa Aronofsky sangat berani dan siap menerima apapun reaksinya. Ini adalah sajian yang membuatku takjub sekali atas isi yang ingin dia sampaikan. Merangkum cerita yang rasanya banyak sampai berabad-abad menjadi dua jam yang berhasil menampar pipi gua tanpa ada merah.

Akhir kata, tak semua orang bisa menikmati dan mempunyai satu pemikiran yang sama, dengan reaksi yang membludak dan ragam interpretasi walau terkoneksi dalam benang merah, membuat Aronofsky merasa berhasil membuat film ini bahkan Martin Scorsese memberi dukungan penuh padanya. Tetapi sangat disayangkan, ketika dia membeberkan maksud (yang masih belum aku baca) dari film ini. Seharusnya dibiarkan hal tersebut sampai pada masanya maksud dari film itu terkuak dan sukses. Banyak film yang berada dalam proses ini yang pada akhirnya berhasil di titik terakhir dan tetap tidak membeberkan esensinya. Tetapi keputusan sudah terjadi, selagi kita memahaminya, jadikan film ini bagai refleksi untuk kita sebagai manusia.


P.S. Kalau nonton film ini, nonton sampai credits habis dengan mendengarkan lagunya yang begitu sedih.

Menurutmu gimana?
Tulis di komen!

HAVE A NICE DAY AND LIVE FOR MOVIES!

RATING:

9.4/10



"brilliant on how humanize something on its point of view that remarkable to be reflection"

WTF! One word that is often made for this movie with various kinds of reactions and opinions from various people who have enjoyed it. It really separates the audience in their respective interpretations. Well, yes! I agree that this is so fuckin 'insane.

Honestly I'm confused to be explain you about the synopsis that really describes the actual content, but rather telling that, so this is about a couple who live in peace, destroyed by the arrival of strangers.

Many films this year come with unique experiences, this time mother! comes with ambitious move in material and essence which can be said quite heavy and possibly misunderstood. I can say, this movie has a brilliant writing and the film directed by Aronofsky as a whole as it doesn’t have a plot because everything is metaphorically accompanied by symbolism. With such marketing like that, which evokes a horror impression compared to what viewers will see to give a tremendous reaction. CINEMASCORE gives F grade, and many critics and even other reviewers who are most likely to be unprepared and incapable of receiving something that feels not logic.


This movie is arguably unclear in the pace and even the story that feels like hopping, yes, I admit it. But for me there are some reasons why Aronofsky makes such a thing. It's unusual in storytelling and it's like a crazy-super-double-insane ride. Then the differences of every event and action that feels contrast, sometimes fast-paced sometimes slow-paced.

He's not a god because of this, he's still him. As some of people say and deeply agree that this film has a strong connection with a biblical story. The film is more about highlighting the views of a mother (I do not want to spoil) from the beginning until now. It is so clear that Aronofsky wants his audience to know and contemplate. It's basically like humanizing something to be understood by people who are sometimes poorly tainted. Her (mother) point of view of her house (metaphorical sentence) is really a nightmare because of us. Then also criticize the unsatisfied human nature and other interpretations.

But on the other hand, though everything feels brilliant, the story is sometimes lacking in first-act for first-time watch although eventually until credits I'm speechless and think about it all day long. This is a general discussion that we should look forward to. Also, because this film has a story like an open interpretation, and seeing like that, it possibly getting misunderstood.

Then I want to give Jennifer Lawrence an appreciation, her performances are good though it's rather trying but not in her natural sense and it’s weird to see her so soft in this film. And in the interview with THR she acknowledged that the character she brought this time was really heavy and beyond her capability, plus pray for her diapraghm. In addition, the casts look so great especially Michelle Pfeifer.



I think Aronofsky is very bold and must ready to accept any reaction. This is the dish that makes me wonder at what he wants to say. Shorten the story that feels like centuries because it is so many that managed to slap me without any red.

Finally, not everybody can enjoy and have the same thought, with the overwhelming reaction and the variety of interpretations but one is always the same, making Aronofsky feel successful in making this film even Martin Scorsese giving full support to him. But very unfortunate, when he explains the meaning, the methaporical in it (which I still haven’t read) from this movie. It should be left to the point where the intentions of the movie were reaching a successful. Many great films were in this process that ultimately succeeds at the last point and still does not reveal the essence of it. But the decision has taken place, as long as we understand it, make this movie as a reflection for us as a human being.


P.S. If you watch this film, watch until end even the credits by listening to the song.

What do you think?
Write down below in comment!


HAVE A NICE DAY AND LIVE FOR MOVIES!

RATING:

9.4/10


Monday, November 27, 2017


Vanity Fair just released many looks that feast your eyes and make you like, can't wait and much excited to see them, even just on the magazine, how about the trailer come? That will be a blast. So, there are few photos from Vanity Fair for their magazine cover up the story of the avengers and what will be in the next. Which is looks awesome when you look at them all.

//////////

Vanity Fair baru saja merilis cover majalah bertaburkan penampakan superhero dari marvel universe, avengers dan bakal membuat kalian tak bisa menunggu filmnya lebih lama. Memandang dan berimajinasi lewat cover magazine ini, begini aja udah nampil badass, bagaimana nanti ditrailer?? Bakal meledak. Jadi, ada beberapa gambar yang dirilis Vanity Fair pada majalahnya yang mengungkap cerita mengenai avengers dan rahasia didalamnya.

You can read it on here:
Cover Story: Inside Marvel ..... VANITY FAIR

Thanks to Vanity Fair for releasing this, marvel fan will screaming when they see this.
image source: vanity fair





Don't go, there's few images again, avengers assembled!
image source: vanity fair








So, how do you feel?
How excited you are?
Let me know in the comment!

Sunday, November 26, 2017


Directors:

Lee UnkrichAdrian Molina (co-director)

Writers:

Lee Unkrich (original story by), Jason Katz (original story by) 

Stars:

Anthony Gonzalez, Gael García Bernal, Benjamin Bratt 



REVIEW IN TWO LANGUAGE | REVIEW DALAM DUA BAHASA


"menakjubkan, kaya akan kultural, dan kesan emosi juga kaya nilai membuatnya WAJIB untuk ditonton"

Pixar menaruh keyakinan pada Lee Unkrich untuk menyutradarai film ini dan hasilnya bener-bener membludak. Bagaimana tidak? Sutradara yang pernah menjadi sutradara pada film Toy Story 3 ini berhasil dengan baik membuat sebuah karya yang kental dengan kultur meksiko ditambah unsur keluarga bertaburkan value yang begitu berbobot.

Film ini menceritakan kisah Miguel hidup dalam keluarga yang selalu menceritakan kisah buruk buyutnya ke setiap keturunan supaya tidak lagi terjadi hal yang sama. Sehingga apapun yang berhubungan musik tidak boleh sampai terdengar ke keluarga itu. Tetapi, Miguel memiliki naluri itu, dia tak bisa memendamkannya. Suatu hari dia dengan sengaja memainkan gitar seorang legendaris yang sudah mati demi kompetisi. Karena itu dia tanpa disadari masuk ke dunia lain.




Jeez, jujur tak disangka-sangka film ini telah memenangkan banyak hati dari penontonnya. Lewat narasi yang begitu family-friendly, penonton akan dibawa kedalam kisah pertualangan Miguel di dunia lain dan berusaha kembali ke dunianya lagi. Tak hanya itu, pengalaman yang diberikan begitu berwarna, hangat, dan sungguh berkesan. Bagaimana membangun narasi yang cukup thoughtful begitu juga dengan karakternya yang membuat segalanya terasa solid di setiap menitnya. Tak hanya itu, momen demi momen yang telah dibangun dalam narasi yang juga kaya akan value, materi penting juga kultur, di akhir kalian akan merasakan perasaan emosional seperti kalian betul-betul merasakan, dan harapan. Pixar kembali berhasil untuk kali ini. Jujur, musiknya betul-betul lebih mengagumkan dan suara yang kalian (akan) dengar ialah dari Anthony Gonzalez, seorang anak meksiko yang wow, suaranya bakal menghipnotis.

Musik, warna, dan keseruan cerita dimainkan dengan sederhana tanpa ada menumpahkan sesuatu yang rasanya berlebihan. Permainan emosi yang dimulai dari sesuatu yang menarik, semakin seru dengan cerita yang kompleks kemudian mendarat dengan emosional lalu kembali dengan rasa bahagia. Karena dibeberapa momen akan ada musik yang enak, ketika kalian nonton, biarkan nalurimu bergerak saat mendengar alunan dan nyanyian didalamnya. Lalu, COCO berhasil memberikan sesuatu tentang keluarga, pastinya kematian dan memori warisan. Membuat kita merasakan dan berpikir bahwa keluarga paling penting dari apapun. Dan juga merasakan bagaimana jika kita meninggalkan orang yang dicintai berharap penuh untuk bisa mengingat kita sampai akhir hayat nanti.


Mari ajak keluarga atau siapapun untuk melihat film ini, jelas film ini sangat penting dan memiliki nilai yang sangat bagus. Jujur, sepertinya pintu oscar terbuka lebar untuk film ini, I guess.


Menurutmu gimana?
Tulis di komen!

HAVE A NICE DAY AND LIVE FOR MOVIES!

RATING:
9.4/10

INDONESIAN

"another great and so mexican from pixar which is a MUST-SEE"

Pixar put believes in Lee Unkrich and his team to directing this film and turns out extraordinary. How come? The director that also brought you to Toy Story 3, and that's a hope for those who haven't seen COCO. This film was amazing and emotional, so mexican and the value and the complexity is great.

This film tells you about Miguel, living in a family that always tell to every generation about his great great grandfather and don't ever the music exists anymore in the family, but Miguel has the gift and it's music. Run out from the family and fight for it, he accidently playing a guitar from a dead legendary. By that, he unaware of its existence in another world and trying to escape for it.



Jeez, honestly this film won many heart by the heartfelt, warming, caring and so many great things in it. By the thoughtful-narration that so family-friendly, you gonna bring into Miguel's adventure. Not to mention the experience they gave to me is so colourful, rich and warm. How it build the story and the character and everything feels solid. Every moment you will see is rich in value, rich in culture and in the end you have to face the emotional moment, like you really feel and hope. Another triumph by Pixar. Honestly, the music, damn, it's so great, prepare for hearing it by Anthony Gonzalez who dubbed the main character.

Music, color, and exciting is spot-on. It's like emotion-game, starts from exciting moment, and become more interesting and landed with emotional feeling then go with happy, warming and graceful feeling. When the music on, let your instinct move when you hear it. Then, COCO succeed to give something that matter about family, loss, death, and memory. How it succeed to make me feel and think about family is the important ones than anything. And also feel how someone that we love, hoping for them to remember us.



Bring your family to feel the joyful story and it's a must- see.

What do you think?
Write down below in comment!


HAVE A NICE DAY AND LIVE FOR MOVIES!

RATING:
9.4/10

ENGLISH


Tuesday, November 14, 2017


Directed by: Michael SpierigPeter Spierig
Written by: Pete Goldfinger, Josh Stolberg
Cast: Matt Passmore, Tobin Bell, Callum Keith Rennie, ...

Genre: Horror Mystery Thriller

Film yang aku anticipated banget ditambah adanya sebuah harapan pada sang sutradara yang juga pernah bikin film Predestination and I think, you know how good that is, tetapi mau bagaimana lagi, sebuah film lanjutan pada franchise tampil begitu mengecewakan walau jujur, tetap menghibur (?).

Seperti biasanya, tentang orang-orang yang diculik dan melakukan serangkaian tes mematikan dan harus mengakui kesalahan mereka. Seiring detektif memecahkan sebuah kasus itu, muncul sebuah kabar bahwa sang Jigsaw kembali hidup.




Kembali hidup? Mending nonton kalau mau jawabannya. Secara, SAW (2004) tetap bertengger diatas sana sebagai cult movie yang bagus jika series selanjutnya di sisihkan karena jujur, cuma pelengkap tanpa sesuatu spesial. Lalu, yang ini? I can't say it's the same. Yang jelas film ini masih memberikan sebuah sajian gore dan melihat orang sekarat dengan jebakan-jebakan baru, hanya saja film ini lebih diperkuat dengan investigasi dari detektif sampai pada akhirnya plot twist. Semua terasa pleasurable, enjoyable, dan pretty entertaining dalam lingkup horror.

Tetapi film ini tidak berjalan sesuai yang di inginkan, kembalinya Jigsaw hanya membawa unsur traps dan cerita baru dan formulanya itu-itu saja, bahkan approach dan pengeksekusian horror begitu lazy, nothing special in it. Tidak ada sesuatu yang membuat film ini sangat berkesan, hanya kesan puas begitu-begitu saja. Film ini rasanya seperti bukan kelanjutan tetapi bagai film tunggal maupun film prekuel. Belum lagi pengeksekusian sebuah rasa horror tidak begitu baik dan bergerak hanya pada satu poin yaitu visual gorenya, tak ada rasa mencekam maupun horror yang pernah kita rasakan dalam SAW franchise sebelumnya. Yang bekerja dengan baik hanya pada plot, kesatuan yang cukup solid dan itu saja.


Sebuah konklusi datang bahwa film ini bener-bener sebagai pelengkap sia-sia dan sebenarnya ga perlu banget di buat, jujur tidak ada sesuatu spesial atau materi experience yang lebih menarik maupun lebih mencekam, hanya sebagai pemuas atau penghibur keinginan para fans yang ingin SAW 8. Filmnya ga buruk-buruk amat, cuma lumayan dan masih worth bagi kalian yang penasaran. It's just traps, investigation, then plot twist, enjoyable, lumayan and that's all. Sejujurnya aku suka kok dengan filmnya, hanya sebatas pemuas horror gitu-gitu aja. Decent.

Menurutmu gimana?
Tulis dikomen!

HAVE A NICE DAY AND LIVE FOR MOVIES!

RATING:
4.7/10
INDONESIAN
The one that I really anticipated then there's was a hope because of the director that brought to you on Predestination and I think you know how great that was, but then when I watched Jigsaw, it feels disappointing but honestly it still entertaining (?).

Like usual, some people kidnapped and brought to another place and do a series of death traps, dying and survive. Beside the detective solve the mysteries before it's too late, news coming to their ears that Jigsaw is alive.




Alive? I think you should see it to know the answer. For me SAW (2004) is a great Thriller and also a cult film but forget other films in its franchise because it's become nothing but pleasurably look on death traps and converting into thrill and using the same formula. So, now? I can't say it's the same. For clearly I think it's just give you a gore visual and see people dying with new death traps, then the detective investigation that felt solid until it end by the plot twist. That's all, just pleasurable, enjoyable, and pretty entertaining in horror thriller genre but not taking a serious forward to become interesting or fascinating.

This film is not filled my expectation, not so hype for it even I really excited for it, Jigsaw come with new traps, new storyline, but the formula is the same, even the approach and horror thriller execution is lazy, nothing special in it. Nothing very important or have a great reason to make this for than just fulfill the fans needs. It's not a continuity but feels like a single film or prequel. Not to mention how they execute its horror is not effective and just using the gore as a scary and thrill matter. It's not so gripping like I ever felt before in the franchise. What only good to me is just, the plot, solidity, that's it.


I'm very sure that this film was unnecessary to come and nothing special in it. Nothing forward or a great move in it. Like I said, it's just enjoyable, entertaining, and not impressive in everything to become a great work, just decent or probably worst in decision to make from the studio. Just traps, investigation, blend it then put the plot twist, that's all. I liked it but disappointing, it's worth to SAW or gory fans. It's not bad and don't mind the rating because the film is bad, it's just the way you felt and it's subjective.

What do you think?
Write down below!

HAVE A NICE DAY AND LIVE FOR MOVIES!

RATING:
4.7/10
ENGLISH

Sunday, November 12, 2017


Penganugerahan Piala Citra yang telah di laksanakan di Manado, kemarin memberikan sebuah kejutan yang luar biasa dan sebuah keberagaman film yang begitu maju, antar nominee tahun ini begitu solid sehingga bingung menilai sebuah potensi besar yang bakal memenanginya. Night Bus menyabet banyak nominasi yang dimenangkannya yang kemudian disusul dengan film Pengabdi Setan. Penilaian para juri semakin ketat dan bahkan film-film yang tidak begitu sukses dalam komersial seperti Night Bus cukup mengejutkan para netizen dengan kemenangannya. Jadi, siapa saja pemenang dalam penganugerahan piala citra tahun ini. Berikut listnya:






Sunday, October 29, 2017


GENRE
DRAMA ROMANCE
YEAR
2017

DIRECTOR
EDWIN
WRITER
GINA S. NOER
PRODUCED BY
MESKE TAURISIA, MUHAMMAD ZAIDY
CINEMATOGRAPHY
BATARA GOEMPAR, SIAGIAN
MUSIC BY
MAR GALO, DAVE LUMENTA
EDITING BY
W. ICHWAN DIARDONO
CAST
PUTRI MARINO, ADIPATI DOLKEN, GRISELDA AGATHA,
CHICCO KURNIAWAN, CUT MINI


for an english review, you can scroll down until you found the red font style.
trailer of this film down below!


INDONESIAN REVIEW




"a great exploration of teenage love with boldness and dark to give a bittersweet and pain emotion to the audience and it's so related"

Edwin, yang terkenal akan film art-housenya yang menghampiri festival internasional dengan materi esensi yang begitu unik, kuat dan tegas. Kali ini dia muncul dalam sebuah karya yang menunjukkan bahwa dirinya juga bisa membuat sebuah film mainstream walau gaya art-house tetap takkan bisa dilepaskan.

Kisah cinta pertama Lala bertemu dengan Yudhis, anak baru yang tertarik padanya. Tanpa waktu lama, mereka menyatu padu. Kemudian Yudhis menginginkan cinta mereka selamanya.

Kurang lebih begitu. Jika film romance indonesia lebih identik pada hal yang memanjakan fantasi sang penontonnya dengan sweet romance yang lebih buruknya, terlalu berlebihan, tanpa ada sesuatu yang spesial lagi, bahkan formula yang sama dan membuat hal itu terasa klise. Film Posesif tampil beda yang membuat film ini menjadi sebuah sajian spesial dalam rasa yang begitu nyata. Tampil bagai apa adanya dan membuat penonton tenggelam dalam sebuah emosi yang diciptakan oleh Edwin melalui cerita dan karakternya.

Hal yang paling gua sukai dari film ini dan membuatnya tampil begitu spesial di hati gua sampai sedikit bercarut di story instagram ialah, bagaimana meramu sebuah kisah yang mengeksplorasi cinta begitu deep, dan tegas. Sebuah eksplorasi cinta dalam rasa nyata tanpa ada sesuatu yang berlebih. Meramu kisah Dark Romance berbumbu thriller cukup begitu related, karena penciptaan karakter dan jalan kisah mereka seperti sebuah pengalaman kebanyakan orang dikonversikan dalam sebuah visual dan emosi sehingga tercipta seperti sugesti nyata kepada penonton bahwa kisah ini betul-betul related. Sikap seorang posesif betul-betul digambarkan dengan baik, bagaimana kerumitan sebuah hubungan didalamnya, sebuah pengaruh dan dampaknya. Everything feels solid.

Sang castnya, Putri Marino dan Adipati Dolken memberikan sebuah performance yang luar biasa terutama Adipati Dolken yang, jujur, gua kagum banget untuk film kali ini, perubahan emosi, tindakan, sebuah pencapaian dan keberanian yang lebih-lebih top untuk film seperti ini. Belum lagi, first acting untuk Putri Marino, tetapi dia udah menghidupkan banget sosok Lala yang hidup dalam kebimbangan dan masih dalam tahap mengeksplorasi apa yang namanya cinta. Supporting characters nya juga tak kalah, Cut Mini dan temen-temen Lala yang gua rasa juga membangun.

Permainan cerita yang tepat oleh Gina membuat mataku terfokus dalam kisah cinta mereka dengan backstory yang gua rasa cukup. Lala dan Yudhis tampil dengan chemistry yang kuat dan jangan disangka bahwa kisah cinta mereka sweet, morelike bittersweet and pain, sebuah kerumitan yang
dikupas dengan alasan yang membuat semakin tahu kekuatan cinta mereka. Penggunaan teknik kamera dan shots yang menyisipkan tambahan emosi kepada penonton akan isi kepala dan hati sang kedua karakter terlihat jelas dan gua suka itu. Dan yah, musiknya! Like every reviewer said, bahwa ketepatan penggunaan musik yang begitu mengatur mood dan diadegan yang sangat tepat, dan Sheila On 7 bakal membuatmu menyanyi dalam iringan. Siap-siap dengan perubahan-perubahan yang seperti banting setir dan hal itu tepat kali untuk memancing emosi untuk tenggelam dalam kisah mereka. Ending? Gua rasa mix, happy and sad, it's all yours thought.


Of course ini sebuah pengalaman yang berbeda dan perubahan sinema indonesia yang lebih baik, ini karya Edwin pertama kali yang gua tonton di bioskop dan luar biasa. Film ini juga important buat para-para audiens indonesia. Tonton dan nikmati dalam sebuah kerumitan emosi.

HAVE A NICE DAY AND LIVE FOR MOVIES!

RATING:
8.7/10

ENGLISH REVIEW


"a great exploration of teenage love with boldness and dark to give a bittersweet and pain emotion to the audience and it's so related"


Edwin, who is famous for his art-house films that go to an international festival with essence material that is so unique, strong and firm. This time he appears in a work that shows that he can also make a mainstream movie even though the art-house style still can't be released.

Lala's first love story met Yudhis, the new student who was attracted to her. Without long, they are united. Then Yudhis wants their love forever.

More or less so. If the romance films of Indonesia are more identical to the things that spoil the fantasy of the audience with sweet romance, which in a worst case; too much, without anything special, even the same, same formula and make it feel cliché. Posesif film are different, being a special dish in a taste so real. Shown how it is and makes the audience immersed in the emotions created by Edwin through stories, characters and techniques.

The thing that I love most about this movie and make it look so special in my heart that make me released one in a repetition of cursed words in my instagram story, that this movie explores a love story that can be practically destructive. An exploration of love in real sense without anything
excessive. Movies that are as fleeting as dark romance and even on certain scenes when audiences see something thrilling like the main thriller. how the creation of characters and the way their story is like an experience of most people converted in a visual and emotion so as to create such a real suggestion to the audience that this story is really related. The attitude of a possessive is really well described, how complex a relationship is, an influence and impact. Everything feels solid.

The cast, Putri Marino and Adipati Dolken deliver a remarkable performance especially Adipati Dolken, to be honest, I am so amazed for the film this time, the change of emotion, action, achievement and courage are even more top for movies like this. Not to mention, first acting for Putri Marino, but she's been turning on Lala who lives in a state of uncertainty and is still in the stage of exploring what her name calls love. Supporting his characters are also not lost, Cut Mini and my friends Lala I think is also building.

How the story is composed by Gina made my eyes focused on their love story with a backstory that I felt was enough and interesting plot. Lala and Yudhis perform with strong chemistry and do not think that their love story is sweet, more like bittersweet and pain, a complexity that is peeled off on the grounds that make me know more about the power of their love and reason to be. The use of camera techniques and shots that insert additional emotion to the audience about both of the
characters think and felt and I like it. And well, the music! Like every reviewer said, that the accuracy of the use of music is so set the mood and very precise, and Sheila On 7 (Indonesian Band) will make you sing in the accompaniment. Get ready with swinging changes and it's just the right thing to provoke emotions and thoughts to make the audience drift in their emotions, feelings through their stories. Ending? I think, happy and sad, it's all yours thought.


Of course this is a different experience and revolution in Indonesian cinema are getting, better, this is the first Edwin work I watched in theatre and it's amazing.


HAVE A NICE DAY AND LIVE FOR MOVIES!

RATING:
8.7/10