Showing posts with label Romance. Show all posts
Showing posts with label Romance. Show all posts

Tuesday, March 20, 2018






"sederhana namun begitu berasa dan bagaimana mengemas cerita dengan rasionalitas tapi tetap menarik dan beda"


Love For Sale adalah ‘her’ dengan kearifan lokal dengan kisah nyesek namun lepas. Dengan premis yang menarik dan sesuai dengan adanya, realitanya, dimana cinta bagai permainan dan berpengaruh. Dan film yang disutradarai Andi Bachtiar ini betul-betul memberikan sajian bittersweet yang tepat dalam mengisi list one of the best indonesian romance dalam sinema mainstream lokal.

Gading Marten dipercayakan untuk memerankan tokoh Richard, jomblo ngenes tapi pengusaha namun hidup sengsara dengan ritual galer. Namun kesengsaraan itu ditimpakan pada karyawannya yang suka telat dan Richard betul-betul menghargai waktu. Malam, pas nobar bola, kawannya ngajak Richard untuk hadir di nikahannya tapi harus bawa pasangan. Kawan lainnya membuat taruhan buatnya. Namun Richard menganggapnya taruhan harga diri, ya lo mungkin kalo diposisinya juga menganggap hal sama-lah, lek. Muncul-lah brosur love.inc yang memikatnya dan bertemu perempuan bernama Arini dan jatuh hati padanya.

Kisah cinta yang ditawarkan dari Love for Sale begitu real dengan humor satirnya yang menambah kesan realism. Mulai dari dialog antar karakter yang berhasil membangun pondasi cerita yang kian menarik, bagaimana mengulik karakterisasi para tokoh dan membuat setiap tokoh di dalamnya punya interaksi menarik dan kuat, itu berhasil ditunjukkan. Santai, dan tidak terlalu di bentuk banget, seperti membiarkan benih-benih yang udah dikasih ke karakter dan berkembang dengan sendirinya lewat dialog yang membaur ke ceritanya. Semua kata-kata yang dilontarkan tokoh berhasil membuat pengembangan karakter dan cerita menjadi baik. Lewat dialog, mengulik kisah Richard dengan kawannya, karyawannya, bahkan Arini. Mengikuti kisahnya yang tenggelam dalam cinta namun hati-hati dan siapkan hati saja buat selanjutnya. Like I said, bittersweet romance.

Sungguh menarik bahwa naskahnya begitu rapi dan arahannya yang santai namun begitu afeksi. Hal ini dikarenakan semua begitu pure terpancar apa yang ingin di sampaikannya. Mulai dari realita, kemanisan romansa,  interaksi yang menarik, bahkan sajian pahit namun lepas. Kenapa lepas? Karena ending yang nantinya bakal antiklimaks dan di tutup dengan konklusi perasaan batin Richard bahwa cinta itu resiko--resiko yang dimaksud bukan artian negatif--, dan disini cinta itu sebuah pengalaman rasa dan bagaimana menghandle-nya, saat maupun after. Realita disini ditunjukkan lewat bagaimana pressure dari sosialnya yang rasanya menganggap cinta bagaikan benda, bukan perasaan mencinta yang alamiah.

Banyak applause buat lu bang Gading Marten, memainkan tokoh Richard dengan amat baik. Apalagi pemeran Arini, Della Dartyan sebagai penyokong performa baik Gading dan menciptakan benih chemistry yang indah. Other cast was also good. Dua karakter yang diperankan Gading dan Della ini bakal menghipnotis dan mengundang senyum tanpa sadar.


Jujur, tonton film ini. Kisah yang begitu sederhana namun begitu afeksi di hati. Pemilihan ending demikian begitu tepat agar materi bisa terngiang dan dipikirkan, apalagi eksekusi kemanisan romansa yang dibuat seperti momen yang nantinya bakal berputar di memori. Sajian yang baik dan mesti kalian tonton segera. Ajak pacar kalo perlu, dan hati-hati yang jomblo. Well, me? I am okay. Yea. *sobbing Kadarshian-ly*

Menurutmu gimana?
Tulis di komen!

HAVE A NICE DAY AND LIVE FOR MOVIES!



RATING
8.5/10

Friday, December 29, 2017


for english review, scroll down until you see the yellow color tiles.

INDONESIAN REVIEW



“Sebuah cerita yang kuat dan berpengaruh sampai menetap di hati dalam waktu yang lama”

Untuk film sejenis ini, sungguh susah diungkapkan dengan kata-kata selain menunjukkan rasa sejenis kekaguman pada kesuksesan film ini, membawa sebuah experience terasa luar biasa pada penontonnya. I don’t care of the theme, selagi pegangan prinsip kuat, takkan pasti terpengaruh apapun itu bentuknya.

Summer di italia, Elio bertemu dan berkenalan dengan Oliver untuk pertama kalinya. Elio terlihat risih dan merasa terganggu dengan kedatangannya, dan tanpa dirasa dia tumbuh untuk menyukainya. Ini kisah cinta pertama Elio yang akan selalu terkenang dihatinya.

Fak, lagi nulis kembali baper. Begitu banyak bertebaran film bertemakan LGBT dengan unsur First Love Story dengan masing-masing keunikan dan tujuan menyinarkan maksudnya. Betapa bagusnya film ini sampai membuatku terdiam dan jelas, film ini memberikan experience romance yang lebih daripada romance straight malahan. Sebenarnya hal utama dari film ini tak hanya persoalan kisah cinta pertama, tetapi juga mengenai embrace dan empowerment dalam cinta, walaupun itu sesama jenis dan dalam kasus ini, Oliver dan Elio terlibat dalam dinamika kisah cinta sesama jenis.

Aku suka bagaimana setiap rajutan film ini begitu kuat dan tepat disegalanya. Menontonnya serasa, kisah yang diceritakan mengalir normal begitu saja, bagai tertawa hangat pada momen-momen, tetapi ketika mencapai sebuah ending, hasil yang membuat hati kita tergoyah dengan maksimal. Bagaimana cerita tak hanya bertutur begitu saja, tetapi membuat penontonnya untuk ikut meraba kisah mereka, memahami sesuatu yang rasanya non-verbal, dan diikuti alunan musik yang dengan cepat menyusup ke dalam hati.

Jujur, Timothee disini memiliki great performance begitu juga dengan line-nya yang betul-betul tercapture sosok karakter itu sendiri, bagaimana seorang remaja yang hidup dalam dunia liberal yang diciptakan oleh orang tuanya. Timothee dan Armie memiliki chemistry yang sangat kuat. Armie Hammer pun juga sama-sama keren gilanya dalam performance.

Ketika menontonnya, apalagi untuk tipe slow-burn dan sampai di ending, hal yang udah terlewati bakal tetap dalam ingatan dalam kurun waktu lama. Belum lagi, hal yang paling spesial disini ialah role parent, sungguh langka mendapatkan orang tua yang bisa menerima apapun, dan memahami kondisi anak dengan baik apalagi ketika kalian mendengar speech oleh ayahnya yang diperankan oleh Michael Stuhlbarg dengan baik.

Everything is about understanding, acceptance, and embrace.

p.s. siapkan hati untuk menerima segala yang ada difilm ini.

Menurutmu gimana?
Tulis dikomen!

HAVE A NICE DAY AND LIVE FOR MOVIES!

RATING:
9.8/10

ENGLISH REVIEW

“Solid romance and impactful that can stay long in your heart for long time”

For a film like this, it’s difficult to say or put any much words about this than showing my expression on how I really love this film. This film has an extraordinary experience and impactful in a long time. It’s been 4 days, and I never forget that, but my heart, damn, still hurt, help me!

Summer in Italy, Elio met and introduced to Oliver for the first time. Elio think that he is pain by his arrival, everyone likes him, but Elio doesn’t, but somehow he grew to like him. This is his first love that always in his heart.

Fuck, my heart! I’m late to the party, I guess but so many LGBT films with using First Love Story as the fundamental of its story then it goes to lightning the meaning or what it would be. It’s such a great film that make me speechless and to be clear, this gave me a romance experience more and more than the straight romance instead. Actually the main thing is not just about first love story, but also about embrace and empowerment of love, even in this case.

I really like that everything feels solid and right at the place. Watching it feels like the story flowing like normally, probably laughing and trying to swim to their story, until it goes to the ending, something that I never believe to be happen when your heart is so weak but what you have to accept is so big. How the story not just telling but involved the audience to understand the character, everything that includes non-verbal matter, and it flows with the great music by Sufjan Stevens that quickly stand inside your heart.

Honestly, Timothee has a great performance so as his line on the script that really capture on teenage itself, how a 17 year old boy living in a liberal family that created by his parent. Also Armie Hammer does a great job in it. How the chemistry is so strong that you felt the entire moment.

When you see it, even it’s slow-burn and until end, the moment that you just been through will stay for long time. Not to mention, that the special thing is the role parent in it, so rarely to see a parent, especially in cinema, seeing a parent that can accept everything and understanding the condition of their kid. When you hear the speech from Elio’s Father that played by Michael Stuhlbarg very well.

Everything is about understanding, acceptance, and embrace.

p.s. prepare your heart for this film, man.

What do you think?
Write down below!

HAVE A NICE DAY AND LIVE FOR MOVIES!

RATING:
9.8/10

Sunday, October 29, 2017


GENRE
DRAMA ROMANCE
YEAR
2017

DIRECTOR
EDWIN
WRITER
GINA S. NOER
PRODUCED BY
MESKE TAURISIA, MUHAMMAD ZAIDY
CINEMATOGRAPHY
BATARA GOEMPAR, SIAGIAN
MUSIC BY
MAR GALO, DAVE LUMENTA
EDITING BY
W. ICHWAN DIARDONO
CAST
PUTRI MARINO, ADIPATI DOLKEN, GRISELDA AGATHA,
CHICCO KURNIAWAN, CUT MINI


for an english review, you can scroll down until you found the red font style.
trailer of this film down below!


INDONESIAN REVIEW




"a great exploration of teenage love with boldness and dark to give a bittersweet and pain emotion to the audience and it's so related"

Edwin, yang terkenal akan film art-housenya yang menghampiri festival internasional dengan materi esensi yang begitu unik, kuat dan tegas. Kali ini dia muncul dalam sebuah karya yang menunjukkan bahwa dirinya juga bisa membuat sebuah film mainstream walau gaya art-house tetap takkan bisa dilepaskan.

Kisah cinta pertama Lala bertemu dengan Yudhis, anak baru yang tertarik padanya. Tanpa waktu lama, mereka menyatu padu. Kemudian Yudhis menginginkan cinta mereka selamanya.

Kurang lebih begitu. Jika film romance indonesia lebih identik pada hal yang memanjakan fantasi sang penontonnya dengan sweet romance yang lebih buruknya, terlalu berlebihan, tanpa ada sesuatu yang spesial lagi, bahkan formula yang sama dan membuat hal itu terasa klise. Film Posesif tampil beda yang membuat film ini menjadi sebuah sajian spesial dalam rasa yang begitu nyata. Tampil bagai apa adanya dan membuat penonton tenggelam dalam sebuah emosi yang diciptakan oleh Edwin melalui cerita dan karakternya.

Hal yang paling gua sukai dari film ini dan membuatnya tampil begitu spesial di hati gua sampai sedikit bercarut di story instagram ialah, bagaimana meramu sebuah kisah yang mengeksplorasi cinta begitu deep, dan tegas. Sebuah eksplorasi cinta dalam rasa nyata tanpa ada sesuatu yang berlebih. Meramu kisah Dark Romance berbumbu thriller cukup begitu related, karena penciptaan karakter dan jalan kisah mereka seperti sebuah pengalaman kebanyakan orang dikonversikan dalam sebuah visual dan emosi sehingga tercipta seperti sugesti nyata kepada penonton bahwa kisah ini betul-betul related. Sikap seorang posesif betul-betul digambarkan dengan baik, bagaimana kerumitan sebuah hubungan didalamnya, sebuah pengaruh dan dampaknya. Everything feels solid.

Sang castnya, Putri Marino dan Adipati Dolken memberikan sebuah performance yang luar biasa terutama Adipati Dolken yang, jujur, gua kagum banget untuk film kali ini, perubahan emosi, tindakan, sebuah pencapaian dan keberanian yang lebih-lebih top untuk film seperti ini. Belum lagi, first acting untuk Putri Marino, tetapi dia udah menghidupkan banget sosok Lala yang hidup dalam kebimbangan dan masih dalam tahap mengeksplorasi apa yang namanya cinta. Supporting characters nya juga tak kalah, Cut Mini dan temen-temen Lala yang gua rasa juga membangun.

Permainan cerita yang tepat oleh Gina membuat mataku terfokus dalam kisah cinta mereka dengan backstory yang gua rasa cukup. Lala dan Yudhis tampil dengan chemistry yang kuat dan jangan disangka bahwa kisah cinta mereka sweet, morelike bittersweet and pain, sebuah kerumitan yang
dikupas dengan alasan yang membuat semakin tahu kekuatan cinta mereka. Penggunaan teknik kamera dan shots yang menyisipkan tambahan emosi kepada penonton akan isi kepala dan hati sang kedua karakter terlihat jelas dan gua suka itu. Dan yah, musiknya! Like every reviewer said, bahwa ketepatan penggunaan musik yang begitu mengatur mood dan diadegan yang sangat tepat, dan Sheila On 7 bakal membuatmu menyanyi dalam iringan. Siap-siap dengan perubahan-perubahan yang seperti banting setir dan hal itu tepat kali untuk memancing emosi untuk tenggelam dalam kisah mereka. Ending? Gua rasa mix, happy and sad, it's all yours thought.


Of course ini sebuah pengalaman yang berbeda dan perubahan sinema indonesia yang lebih baik, ini karya Edwin pertama kali yang gua tonton di bioskop dan luar biasa. Film ini juga important buat para-para audiens indonesia. Tonton dan nikmati dalam sebuah kerumitan emosi.

HAVE A NICE DAY AND LIVE FOR MOVIES!

RATING:
8.7/10

ENGLISH REVIEW


"a great exploration of teenage love with boldness and dark to give a bittersweet and pain emotion to the audience and it's so related"


Edwin, who is famous for his art-house films that go to an international festival with essence material that is so unique, strong and firm. This time he appears in a work that shows that he can also make a mainstream movie even though the art-house style still can't be released.

Lala's first love story met Yudhis, the new student who was attracted to her. Without long, they are united. Then Yudhis wants their love forever.

More or less so. If the romance films of Indonesia are more identical to the things that spoil the fantasy of the audience with sweet romance, which in a worst case; too much, without anything special, even the same, same formula and make it feel cliché. Posesif film are different, being a special dish in a taste so real. Shown how it is and makes the audience immersed in the emotions created by Edwin through stories, characters and techniques.

The thing that I love most about this movie and make it look so special in my heart that make me released one in a repetition of cursed words in my instagram story, that this movie explores a love story that can be practically destructive. An exploration of love in real sense without anything
excessive. Movies that are as fleeting as dark romance and even on certain scenes when audiences see something thrilling like the main thriller. how the creation of characters and the way their story is like an experience of most people converted in a visual and emotion so as to create such a real suggestion to the audience that this story is really related. The attitude of a possessive is really well described, how complex a relationship is, an influence and impact. Everything feels solid.

The cast, Putri Marino and Adipati Dolken deliver a remarkable performance especially Adipati Dolken, to be honest, I am so amazed for the film this time, the change of emotion, action, achievement and courage are even more top for movies like this. Not to mention, first acting for Putri Marino, but she's been turning on Lala who lives in a state of uncertainty and is still in the stage of exploring what her name calls love. Supporting his characters are also not lost, Cut Mini and my friends Lala I think is also building.

How the story is composed by Gina made my eyes focused on their love story with a backstory that I felt was enough and interesting plot. Lala and Yudhis perform with strong chemistry and do not think that their love story is sweet, more like bittersweet and pain, a complexity that is peeled off on the grounds that make me know more about the power of their love and reason to be. The use of camera techniques and shots that insert additional emotion to the audience about both of the
characters think and felt and I like it. And well, the music! Like every reviewer said, that the accuracy of the use of music is so set the mood and very precise, and Sheila On 7 (Indonesian Band) will make you sing in the accompaniment. Get ready with swinging changes and it's just the right thing to provoke emotions and thoughts to make the audience drift in their emotions, feelings through their stories. Ending? I think, happy and sad, it's all yours thought.


Of course this is a different experience and revolution in Indonesian cinema are getting, better, this is the first Edwin work I watched in theatre and it's amazing.


HAVE A NICE DAY AND LIVE FOR MOVIES!

RATING:
8.7/10




Saturday, September 30, 2017

Film kontroversial akan adegan eksplisitnya memberikan sebuah seni yang jujur dan hangat bagi gua. Agak aneh kedengarannya tetapi semakin lama gua suka model film beginian.

Adele, siswi SMA sastra menemukan hatinya merasa kosong akan sesuatu, melakukan eksplorasi akan cinta dan gairah, disitulah dia bertemu dengan seorang wanita berambut biru yang merupakan seniman.

Well, I can say, this one is my favorite. Entah gimana, film ini menuturkan sebuah rasa yang begitu berbeda dari yang lainnya. Terlepas dari adegan eksplisit dan pasti bertentangan lah dengan budaya lokal kita yang mana film ini penuh dengan cerita yang begitu meresap dengan tepat tanpa ada rasa emosional yang berlebih, dan tak setiap drama harus begitu, tetapi bagaimana membuat seseorang merasa terkoneksi akan cerita, merasakannya dan menyentuh hati kita tanpa disadari.

Cast yang super-wow, performa yang berani dan memang impresif. Adele yang tampil begitu cantik dengan bibir yang seksi dan usia muda yang masih melakukan eksplorasi akan cinta dan gairah sementara Emma, seniman yang tak lepas akan seni dan mengekspresikan dan menaruh hidupnya kepada seni.

Bagaimana kedua karakter ini saling dipertemukan dan kisah eksplorasi adele ini begitu bagus. Bagaimana si Kechiche meramu adaptasi graphic novel yang terasa mengalir begitu saja seakan-akan yang kita lihat begitu real dan ditambah aspek cerita dan performa aktrisnya yang begitu mendukung. Penggunaan color yang tepat, visual yang lembut dan peresapan rasa dari film ini begitu dijalankan dengan baik.

Gua suka bagaimana film ini mencoba untuk menampilkan bahasa visual yang jujur dan terasa natural juga hangat. Gua ga peduli apa kata orang soal sex scenes yang begitu lama apalagi di cinema, menurut gua adegan itu mencoba menunjukkan bahasa visual penuh gairah, cinta dan penyatuan jiwa yang seakan-akan melekat dan tersisip ke benak akan cinta mereka yang tak akan pernah bisa terlepaskan. Tapi kalau ditanya kesan pertamanya, memang weird, but I know the purpose and it works.

Film ini juga seakan menunjukkan kalau cinta tanpa kenal batas, kalau kamu suka, ya kejar, jangan peduli apa kata orang. Dan dari sisi lain, film ini juga membahas akan identitas seksualitas dan apakah rasa tiap-tiap tipe itu berbeda. Secara keseluruhan gua suka dengan kehangatan dan kelembutannya, menuturkan sebuah drama yang begitu menyentuh, apalagi tampil natural dan berdasarkan apa yang ada, I just loved this one.

Menurutmu gimana?
Tulis dikomen!

HAVE A NICE DAY AND LIVE FOR MOVIES!

RATING
9.5/10